Kamis, 07 Februari 2013

Arah Gerakan Kita : Derap Langkah dan Kibar Panji


Saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan mahasiswa mengalami masa dipersimpang jalan. Banyak pihak beropini bahwa terjadi kemunduran “kualitas” gerakan mahasiswa, bila dibandingkan angkatan gerakan mahasiswa yang sekarang jadi pejabat negeri ini. Dalam hal ini tentunya secara umum tidak terkecuali menimpa Ikatan, namun dengan beberapa kekhususan akar masalah. Kondisi yang demikian tidak terlepas dari dua hal. Pertama, IMM sebagai organisasi otonomi Muhammadiyah, mendapatkan dukungan fasilitas dan modalitas, yang justru menjebak Ikatan pada bentuk-bentuk organisasi formal. Tidak berani kritis.

Pendekatan yang digunakan oleh Muhammadiyah dalam memposisikan Ikatan pun cenderung berparadigma struktur-fungsional. Ikatan –diharapkan- sebagai organisasi persemaian kader bagi Muhammadiyah, tidak lebih. Kritik yang disampaikan oleh IMM dianggap sebagai anomali dari sistem yang tertata dengan baik. Pernah pada suatu kali seorang kader bercerita bagaimana ia di kritik oleh pejabat Muhammadiyah, karena sering mengkritik Muhammadiyah dan AUM, yang justru sudah di kritik Ahmad Dahlan. “Kamu pasti di kos bacanya Marx. Bagaimana Muhammadiyah dapat maju kalau bacaannya penindasan-penindasan macam itu”. Bila “kemajuan” bagi Muhammadiyah berarti dengan menjadi penindas baru di negeri ini atas nama gerakan kemanusiaan, maka IMM harus menjadi gerakan pertama yang menentangnya atas nama Islam.

Refleksi Peran Mahasiswa


 
Judul : Dari Demonstrasi Hingga Seks Bebas: Mahasiswa di Era Kapitalisme dan Hedonisme

Penulis : Nurani Soyomukti

Kata Pengantar : Airlangga Pribadi

Penerbit : Garasi, Yogyakarta, 2008

Tebal : 182 halaman



  


Sejarah telah mencatat keterlibatan mahasiswa dalam berbagai peristiwa sosial-politik yang pernah terjadi di negeri ini. Gerakan reformasi 1998, gerakan mahasiswa 1974 yang dikemudian waktu lebih dikenal Malapetaka Januari (Malari) 1974 adalah sedikit contoh kecilnya. Mahasiswa bersama masyarakat membangun gerakan guna melakukan kritik sosial-politik kepada pemerintah. Gerakan moral sosial-politik tersebut dibangun sebagai respon atas kebijakan pemerintah yang dinilai telah jauh menyimpang dari cita-cita luhur dibentuknya negara ini; menciptakan masyarakat adil dan sejahtera. Pun ketika melihat para pejabat pemerintah telah terjebak dalam moralitas bejat; korupsi, kolusi, nepotisme, dan tidak bertindak tegas pada konglomerat jahat. Dengan berbagai aktivitas sosial, budaya, serta politik mahasiswa mencoba membenahi realitas tersebut, setidaknya memberitahukan bahwa ada yang menyeleweng dari asa negara.

Refleksi Peranan Mahasiswa Dalam Sejarah

Generasi muda adalah penentu perjalanan bangsa di masa yang akan datang. Mahasiswa sebagai inti dari generasi muda, mempunyai kelebihan dalam pemikiran ilmiah, selain semangat mudanya, sifat kritisnya, kematangan logika dan ‘kebersihan’-nya dari dosa politik orde baru.
 
Mahasiswa adalah motor penggerak utama perubahan. Mahasiswa diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejumudan masyarakat.

Nasionalisme tidak seperti bangunan statis, tetapi selalu dialektis dan interpretatif, sebab nasionalisme bukan pembawaan manusia sejak lahir, melainkan sebagai hasil peradaban manusia dalam menjawab tantangan hidupnya. Terbukti dalam sejarah Indonesia, kebangkitan rasa nasionalisme didaur ulang kembali oleh para mahasiswa dan pemuda, karena mereka merasa ada yang menyimpang dari perjalanan nasionalisme bangsanya.

Nasionalisme Gelombang Pertama: Kebangkitan Nasional 1908

Berdasarkan sejarah, gerakan kebangkitan nasionalisme Indonesia diawali oleh Boedi Oetomo di tahun 1908, dengan dimotori oleh para mahasiswa kedokteran Stovia, sekolahan anak para priyayi Jawa, di sekolah yang disediakan Belanda di Djakarta. Tahun dan nama organisasi sebagai tonggak kebangkitan nasional Indonesia, masih menjadi obyek perdebatan para ahli sejarah, karena Boedi Oetomo, tidaklah menasional organisasinya, tetapi hanya melingkupi Jawa saja. Jadi patut dipertanyakan sebagai tonggak kebangkitan nasional Indonesia.

Sang Bomber pun Kagumi Nabi Muhammad SAW


MANCHESTER -- Siapa tidak kenal Javier Hernández Balcázar atau populer dipanggil Chicarito. Meski hanya pemanis bangku cadangan lantaran kalah bersaing dengan Wayne Rooyne dan Robin van Persie, namun perannya di tim sangat penting.

Kemenangan Manchester United atas Newcastle United di lagw boxing day di Old Trafford, Rabu (26/12) menjadi buktinya. Penyerang Timnas Meksiko itu mencetak gol pada menit terakhir dan mengantarkan the Red Devils menang 4-3 dan unggul tujuh angka dari peringkat kedua, Manchester City.